Membangun Karakter dengan Pendidikan Profetik

Posted: May 23, 2012 in Makalah, Pendidikan, Sosial
Tags:

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Peningkatan kualitas pendidikan bagi suatu bangsa harus di prioritaskan. Sebab kualitas pendidikan sangat penting artinya, karena hanya manusia yang berkualitas saja yang mampu bertahan hidup di masa depan. Manusia yang dapat bergumul dalam masa di mana dunia semakin sengit tingkat kompetisinya adalah manusia yang berkualitas. Manusia yang demikianlah yang diharapkan dapat bersama-sama manusia yang lain turut berpartisipasi dalam percaturan dunia yang senantiasa berubah dan penuh teka-teki.

Untuk menciptakan manusia yang berkualitas bisa dilakukan dengan menumbuhkan karakter manusia sejak dini. Salah satunya adalah menumbuhkan karakter dengan pendidikan karakter profetik. Dimana manusia mampu mengintegrasikan sifat-sifat kemanusiaannya dengan kehendak Sang Penciptanya. Dialah Sang Pembawa Risalah: Nabi (prophet). Semua orang (beragama) tahu bahwa sosok manusia yang memiliki karakter sempurna dalam kacamata manusia adalah para Nabi.

Pendidikan yang mengarahkan manusia untuk memiliki karakter seperti manusia agung layaknya Nabi tentu menjadi peta konsep yang jelas dalam membentuk manusia seutuhnya. Manusia memang tidak akan menjadi manusia layaknya seorang Nabi karena itu adalah otoritas Tuhan, akan tetapi manusia bisa “mengarahkan” dirinya seperti layaknya Nabi baik dalam kepribadiannya maupun dalam peranannya. Oleh karena itu, spirit prophetic (kenabian) harus menjadi dasar sekaligus nilai yang meresap dalam sistem pendidikan yang belum menvantumkan Nabi (prophet) sebagai contoh referensinya. Wajah Pendidikan Indonesia akan menampilkan ekspresi dengan penuh percaya diri apabila ada kejelasan ketika menunjukan jati dirinya. Jati diri itu adalah jiwa dari kepribadian manusia yang ideal sepanjang jaman yang kita sebut dengan Nabi (Prophet). Berdasarkan hal tersebut, maka makalah ini akan membahas tentang memajukan pendidikan sekolah dengan pendidikan profetik (Epi Suhaepi, http://www.dakwah-uny.com).

B.     Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan pendidikan profetik?
  2. Bagaimana pendidikan karakter diterapkan?
  3. Apakah tujuan pendidikan profetik?
  4. Bagaimana strategi pengembangan pendidikan karekter profetik?
  5. Apa saja kendala yang dihadapi dalam pendidikan karakter?

C.    Tujuan

  1. Memahami arti pendidikan profetik
  2. Mengetahui penerapan pendidikan karekter
  3. Mengetahui tujuan pendidikan profetik
  4. Mengetahui strategi pengembangan pendidikan karekter profetik
  5. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam pendidikan karakter

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian

Profetik berasal dari bahasa inggris prophetical yang mempunyai makna Kenabian atau sifat yang ada dalam diri seorang nabi. Yaitu sifat nabi yang mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual, tetapi juga menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan. Dalam sejarah, Nabi Ibrahim melawan Raja Namrud, Nabi Musa melawan Fir’aun, Nabi Muhammad yang membimbing kaum miskin dan budak belia melawan setiap penindasan dan ketidakadilan. Dan mempunyai tujuan untuk menuju kearah pembebasan. Dan tepat menurut Ali Syari’ati “para nabi tidak hanya mengajarkan dzikir dan do’a tetapi mereka juga datang dengan suatu ideologi pembebasan”.

Secara definitif, pendidikan profetik dapat dipahami sebagai seperangkat teori yang tidak hanya mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial, dan tidak pula hanya mengubah suatu hal demi perubahan, namun lebih dari itu, diharapkan dapat mengarahkan perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik  (http://km3community.wordpress.com).

B.     Pendidikan Karakter sebagai Pendidikan Profetik

Secara konseptual istilah pendidikan prifetik ini sering disamakan dengan pendidikan nilai, religious, budi pekerti, akhlak mulian, atau pendidikan moral. Dalam kehidupan berbangsa, pendidikan berkarakter atau sering disebut dengan nation and character building senantiasa merupakan hal yang sangat filosofis dan esensial dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pembangunan politik, social, ekonomi, hokum, keamanan, serta penguasaan IPTEKS harus menyatu dengan pembangunan karakter manusia sebagai pelaku dan penanggungnya, sehingga tujuan pembangunan itu mencapai sasaran, yakni kesejahteraan, kemaslahatan, dan kedamaian hidup umat manusia itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi sangat penting dalam berbagai kegiatan pembangunan, dan secara khusus menjadi factor dan perspektif yang sangat mendasar dalam kegiatan pembangunan itu sendiri. Sebab, selama ini banyak terlontar kritik bahwa penyelenggaraan pendidikan kita telah kehilangan moral pendidikan. Statement itu berarti member gambaran bahwa para lulusan pendidikan di bangku sekolah kita ada sesuatu yang kurang, yakni aspek moralitas, aspek budi pekerti luhur. Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu dikembangkan untuk membantu mengatasi kekurangan dan mengobati cacat fundamental tersebut.

Pendidikan karakter, pendidikan moral, atau pendidikan budi pekerti itu dapat dikatakan sebagai proses untuk pentempurnaan diri manusia, merupakan usaha manusia untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang berakhlak mulia, manusia yang berkeutamaan. Dengan demikian, pendidikan karakter hakikatnya merupakan pendidikan profetik.

Pendidikan profetik tidak lain adalah proses pendidikan yang dilaksanakan seperti di era kenabian. Pendidikan atau kegiatan tarbiyah seperti di era nabi akan senantiasa memadukan antara aspek jasmani dan ruhani, antara aspek dunia dan ukhrowi, antara kehambaan dan kekhalifahan. Dengan demikian, pendidikan profetik merupakan institusi pematangan proses humanisasi yang religious.

Dalam konteks persekolahan, pendidikan karakter yang sangat lekat dengan pendidikan profetik itu akan mengantarkan peserta didik dengan potensi yang dimilikinya akan menjadi insane-insan yang beriman dan bertaqwa; berakhlak mulia; hidup tertib dan disiplin sesuai dengan peraturan yang ada; santun dan menghormati paraguru; para orang tua; jujur dan rajin belajar, menghargai terhadap sesame dan menghargai lingkungannya.

Pendidikan karakter tidak terlepas dari upaya pengembangan akhlak mulia dan kebiasaan yang baik bagi para peserta didik. Dengan demikian, pendidikan karakter akan membangun dan membiasakan sikap serta prilaku terpuji bagi peserta didik secara berkelanjutan, baik di dalam kelas, di lingkungan sekolah, mestinya juga di luar sekolah. Oleh karena itu, dalam pengembangan pendidikan karekter, guru harus juga bekerjasama dengan keluarga atau orang tua/ wali peserta didik.

Uraian tersebut memberikan petunjuk bahwa yang dimaksud pendidikan karakter tidak lain sebuah proses dan hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Artinya, hakikat pendidikan yang sesungguhnya adalah pendidikan karakter itu sendiri, pendidikan untuk mengembangkan akhlak mulia pada setiap diri manusia (Sardiman, 2011: 127-130).

C.    Tujuan Pendidikan Profetik

Al Syaibany menampilkan definisi tujuan sebagai perubahan yang diingini yang diusahakan oleh proses pendidikan, atau upaya yang diusahakan oleh proses pendidikan, atau usaha pendidikan untuk mencapainya, baik pada tingkah laku individu pada kehidupan pribadinya, maupun pada kehidupan masyarakat dan alam sekitar berkaitan dengan individu itu hidup.

Jadi, melalui tujuan-tujuan yang ingin dicapai dapat diketahui kearah mana pendidikan akan di bawa dan sampai tahap mana pendidikan telah di capai. Selain itu, dengan mengacu pada tujuan, pendidikan dapat terarah dan terkonsep. Sehingga, tujuan pendidikan sangat penting dan memiliki banyak manfaat. Berikut ini, beberapa tujuan pendidikan profetik, yaitu:

     1.      Tujuan Umum

Prof. M. Athiyah Al-Abrasyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan lima tujuan umum pendidikan Islam, yaitu:

  • Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Tujuan pendidikan bukan hanya untuk mengisi otak dengan pelajaran-pelajaran saja, tetapi bagaimana pelajaran yang diberikan dapat membentuk akhlak yang baik, yang sesuai dengan Islam dan adat Indonesia.
  • Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan di akhirat. Pendidikan bukan hanya menitik beratkan pada satu kehidupan saja. Tetapi bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara pendidikan untuk bekal di dunia dan akhirat.
  • Persiapan untuk mencapai rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidak hanya mempelajari pengetahuan agama, akhlak, atau spiritual semata. Tetapi juga mempelajari pengetahuan umum untuk bekal kehidupan dunia dalam mencari rezeki yang bermanfaat.
  • Menumbuhkan roh ilmuah (scientific spirit) pada pelajaran dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu sekedar ilmu.
  • Menyiapkan pelajar dari segi professional, teknis dan perusahaan supaya ia juga dapat menguasai rofesi tertentu, teknis tertentu, dan perusahaan tertentu agar dapat mencari rezeki. Dengan bekal kemampuan teknis dapat mencari kehidupan yang layak dengan tetap memelihara segi keagamaan.

Pada kajian yang dibuat Prof. Abdurrahman an-Nahlawi dalam bukunya, Dasar-Dasar Pendidikan Islam dan Metode-Metode Pengajarannya, empat tujuan umum ditampilkan, yaitu:

  • Pendidikan akal dan persiapan pikiran.
  • Menumbuhkan potensi-potensi dan bakat-bakat asal pada anak.
  • Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka dengan sebaik-baiknya, baik laki-laki maupun perempuan.
  • Berusaha untuk menyeimbangkan segala kekuatan dan kesediaan-kesediaan manusia. Pendidikan tidak terbatas pada pendidikan pikiran saja, tetapi juga menaruh perhatian pada psikologis anak.

2.      Tujuan Khusus

  • Memperkenalkan pada generasi muda akan kaidah-kaidah Islam, dasar-dasarnya, asal-usul ibadat, dan cara-cara melaksanakannya dengan betul, dengan membiasakan mereka berhati-hati, mematuhi akidah-akidah agama dan menghormati syiar-syiar agama.
  • Menumbuhkan kesadaran yang betul pada diri pelajar terhadap agama termasuk prinsip-prinsip dan dasar-dasar akhlak yang mulia. Juga membuang bid’ah-bid’ah, khurafat, kepalsuan-kepalsuan, dan kebiasaan-kebiasaan using yang melekat pada Islam tanpa disadari, padahal Islam itu bersih.
  • Menambah keimanan kepada Allah pencipta alam, juga kepada malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, dan hari akhir berdasar pada paham kesadaran dan keharusan perasaan.
  • Menumbuhkan minat generasi muda untuk menambah pengetahuan dalam adab dan pengetahuan keagamaan agar patuh mengikuti hokum-hukum agama dengan kecintaan dan kerelaan (Khoiron Rosyadi, 2009: 161-171).

D.    Strategi Pengembangan Karakter Profetik

Dengan memperhatikan pola didih Rasulullah SAW atas para sahabat dari beberapa usia, serta statement umum, tahap perkembangan prilaku seseorang berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, tahap prilaku lahiriah (0-10 tahun). Pada usia ini, anak memperlihatkan prilaku lahiriah yang bersifat formalistic, tidak tetap, dan memungkinkan untuk berubah. Pada tahap ini, prilaku anak sangat dipengaruhi oleh dorongan-dorongan eksternal, seperti sanjungan atau kritikan, imbalan atau hukuman, persetujuan atau penolakan. Penilaian anak terhadap semua prilakunya bersifat egosentris dan diukur berdasarkan kesenangan materil yang diperolehnya.

Strategi yang tepat untuk pengembangan karakter pada tahap ini, antara lain (1) pengarahan, (2) habituasi, (3) keteladanan, (4) penguatan (biasanya melalui imbalan, sanjungan, dan sebagainya) dan pelemahan (biasanya melalui hukuman mendidik), (5) indoktrinasi. Jika dicermati, strategi yang diterapkan pada tahap ini masih bersifat tradisional. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan bukan bentuk strategi yang dipilih, tetapi ketepatan strategi tersebut untuk mengembangkan karakter pada usia dan kematangan anak yang tepat.

Kedua, tahap prilaku berkesadaran (11-15 tahun). Pada usia ini, anak-anak mulai memiliki kesadaran sebagai hasil dari perkembangan kapasitas intelektualitas yang mulai rasional. Mereka telah mampu membedakan yang baik dan yang buruk. Pilihan-pilihan prilaku yang dilakukannya tidak lagibersifat egosentris, tetapi mulai memperhatikan factor psikososial dan kesadaran dirinya untuk beradaptasi dengan masyarakat. Perkembangan-perkembangan inilah yang akhirnya mendorong penerapan strategi yang berbeda dari tahapan sebelumnya. Pada tahapan ini ada beberapa strategi pembentukan karakter yang dapat dilakuakan, antara lain: (1) menanamkan nilai melalui proses dialogis sehingga tertanam struktur berpikir yang benar untuk akhirnya menentukan prilaku yang benar pula, (2) pembimbingan dan pendampingan agar anak-anak mampu menghadapi kenyataan kehidupan dengan baik, dan (3) pelibatan langsung anak dalam praktik prilaku mulia.

Ketiga, tahap kontrol internalatas prilaku (15 tahun keatas). Al-Quran menyebut tahap usia ini dengan asyuddahu (Qs. Ql-Ahqaf [46]: 15). Pada tahap ini, anak-anak ditandai dengan menguatnya kesadaran akan nilai-nilai kebenaran, kebaikan,dan keindahan. Nilai-nilai tersebut mulai member arah dan pedoman bagi prilaku anak. Kesadaran untuk memadukan nilai-nilai individu dengan nilai-nilai social mulai terbentuk secara untuh. Strategi yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan karakter tahap ini, antara lain: (1) pendampingan anak untuk memperkuat visi dan orientasi hidup anak sehingga anak dapat mengambil keputusan sendiri, (2) pengembangan soft skill anak, dan (3) penguatan kesadaran akan tanggungjawab kepada Allah SWT.

Keseluruhan strategi diatas sebenarnya memungkinkan untuk diterapkan pada setiap tahapan. Penerapan masing-masing strategi sangat ditentukan oleh kondisi siswa. Itulah sebabnya, ketika memperhatikan pola didik Rasulullah SAW dapat diketahui bahwa penerapan masing-masing strategi ditentukan oleh kondisi siswa (Dwi Budiyanto, 2011: 90-91)

E.     Kendala Pendidikan Karakter

Harus disadari bahwa melaksanakan pendidikan karakter di era sekarang ini bukan sesuatu yang gampang. Sudah disinggung di atas bahwa dalam tatanan praktik, pendidikan kita kurang memperhatikan pengembangan moral dan kepribadian peserta didik. Pendidikan cenderung ditekan pada penguasaan materi. Dengan demikian, pendidikan karakter menjadi kurang mendapat perhatian. Pendidikan karakter di Indonesia memang menghadapi beberapa kendala atau boleh dikatakan mengalami kemunduran. Mengapa demikian? Ada beberapa factor yang menjadi kendala dalam pengembangan pendidikan karakter di Indonesia.

Secara nasional, yang pertama persoalan tersebut nampaknya tidak dapat dilepaskan dari pradigma dan kebijakan serta arah pembangunan nasional di masa Orde Baru. Era Orde Baru terjadi perubahan kebijakan pembangunan. Dengan dilator belakangi sejarah di era sebelumnya (Orde Lama) yang ditandai dengan hingar bingarnya persoalan politik dan ideology, yang terkesan melupakan pembangunan ekonomi, sehingga kesejahteraan masyarakat menjadi terabaikan, maka pemerintahan Orde Baru mengambil kebijakan dengan menitikberatkan pembangunan di bidang fisik dan ekonomi.

Selanjutnya, kemunduran pendidikan karakter itu juga disebabkan oleh pelaksanaan pendidikan kita selama ini. Banyak kritik yang terlontar, terkait dengan pradigma pembangunan yang lebih pragmatis, menyebabkan pendidikan kita juga terpengaruh oleh pragmatisme. Pendidikan yang berlangsung melalui proses pembelajaran lebih menitikberatkan pada kegiatan penguasaan materi, sehingga pembelajaran yang berlangsung lebih banyak merupakan proses menghafal informasi dan mengakumulasi fakta.

Problem berikutnya, masih terkait dengan penyelenggaraan pendidikan yang terpengaruh oleh pragmantesme, yakni teknik penilaian. Penilaian pun harus mudah dilakukan. Pendidikan karakter yang terkait dengan aspek nilai, moral dan kepribadian, dipandang sangat sulit untuk diukur. Sebagai akibat dari kuatnya pengaruh aliran positivism, telah membawa kebiasaan bahwa tagihan-tagihan penyelenggaraan pendidikan lebih bersifat akademik, dapat dikuantifikasikan, selalu observable, dan dapat diukur secara nyata.

Terkait dengan penyelenggaraan pendidikan yang bersifat intelektualistik, ternyata lebih menjebak lembaga pendidikan/ sekolah sebagai menara gading, lembaga yang “terpisah” dari orang tua dan masyarakat. Sebab dengan sifat intelektualistik telah melahirkan kesan bahwa pengembangan kecerdasan intelektual itu memang tugas dan bidangnya guru-guru. Dengan demikian, peran dan keterlibatan orang tua atau masyarakat menjadi lebih kecil.

Factor lain yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah perkembangan media masa, baik cetak maupun elektronik. Di era yang sudah terbuka ini, tidak sedikit program-program siaran media masa dan penggunaan alat komunikasi yang tidak bertanggung jawab. Ini semua harus kita waspadai kalau program pendidikan karakter ingin berhasil (Sardiman, 2011: 133-137).

BAB III

KESIMPULAN

Pendidikan pada hakekatnya merupakan proses memanusiakan manusia (humanizing human being). Karena itu, semua praktek pendidikan mestinya selalu memperhatikan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan dengan fitrah, sebagai mahkluk individu yang khas, dan sebagai mahluk sosial yang hidup dalam realitas sosial yang majemuk. Untuk itu, pemahaman yang utuh tentang karakter manusia wajib dilakukan sebelum proses pendidikan dilaksanakan. Namun demikian, dalam realitasnya banyak praktek pendidikan yang tidak sesuai dengan missi tersebut.

Harus disadari bahwa melaksanakan pendidikan karakter di era sekarang ini bukan sesuatu yang gampang. Sudah disinggung di atas bahwa dalam tatanan praktik, pendidikan kita kurang memperhatikan pengembangan moral dan kepribadian peserta didik. Pendidikan cenderung ditekan pada penguasaan materi dan proses pendidikan yang ada cenderung berjalan monoton.

Sehingga, untuk keberhasilan pendidikan karakter ini, sedikit banyak system pendidikan harus diubah. Karena dengan keberhasilan pendidikan karakter, akan dapat mengatasi carut marutnya kehidupan masyarakat. Selain itu akan dapat mengantarkan bangsa Indonesia menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Education Center BEM REMA UNY, Dwi Budiyanto, Sardiman dkk. 2011. Pendidikan Profetik “Revolusi Manusia Abad 21”. Yogyakarta: Education Center BEM REMA UNY. Cetakan ke I

Isjoni. 2008. Memajukan Bangsa dengan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cetakan ke I

Khoiron Rosyadi. 2009. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cetakan ke II

Download pada tanggal 10 May 2012, 14:35 pada:

Epi Suhaepi. http://www.dakwah-uny.com/v3/berita-134-wajah-pendidikan-indonesia-dengan-karakter-profetik.html

http://km3community.wordpress.com/2008/07/02/pendidikan-profeti-versi-kuntowijoyo/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s