Metafisika

Posted: May 28, 2012 in Filsafat


A.    Pengertian

Metafisika semula digunakan untuk menunjukkan karya-karya tertentu Aristoteles. Istilah ‘metafisika’ berasal dari bahasa Yunani meta ta physika, yang berarti hal-hal yang berada sesudah (dibalik) fisika. Istilah tersebut dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang telaah tentang segala sesuatu secara mendalam atau sifat yang terdalam dari kenyataan (ultimate nature). Bilamana dibandingkan dengan ilmu fisika yaitu yang mempelajari benda-benda fisik, ilmu biologi yang mempelajari gejala fisis dari makhluk hidup, maka metafisika mempelajari dan membahas tentang keberadaan segala sesuatu benda fisis dari segi hakikatnya yang terdalam.

B.     Lingkup Metafisika

Metafisika mengandung Klasifikasi  yang meliputi   Pertama,  Metaphysica Generalis (ontologi); ilmu tentang yg ada atau pengada.  Kedua, Metaphysica Specialis terdiri atas: 1). Antropologi; menelaah tentang hakikat manusia, terutama hubungan jiwa dan raga. 2) Kosmologi; menelaah tentang asal-usul dan hakikat alam semesta.  Dan  3). Theologi; Kajian tentang Tuhan secara rasional dengan segala abstraksi yang memungkinkan melekat pada-Nya.

Metafisika umum membahas mengenai yang ada sebagai yang ada, artinya prinsip-prinsip umum yang menata realitas. Sedangkan metafisika khusus membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam bidang-bidang khusus: teologi, kosmologi dan psikologi. Pemilahan tersebut didasarkan pada dapat tidaknya dicerap melalui perangkat inderawi suatu obyek filsafat pertama. Metafisika umum mengkaji realitas sejauh dapat diserap melalui indera sedang metafisika khusus  (metafisika) mengkaji realitas yang tidak dapat diserap indera, apakah itu realitas ketuhanan (teologi), semesta sebagai keseluruhan (kosmologi) maupun kejiwaan (psikologi).

Disiplin filsafat  pada dasarnya tidak sepenuhnya terpisah satu sama lain karena pembahasan metafisika tentang realitas supra inderawi, terkait dengan pembahasan ontologi tentang prinsip-prinsip umum yang menata realitas inderawi.   Istilah  metafisika dengan sifatnya yang supra inderawi inilah memunculkan keengganan orang terhadap konsep – konesp metafisika. Kedudukan metafisika dalam dunia filsafat sangat kuat. Pertama, metafisika sudah merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Kedua, telaah filosofis terdapat unsur metafisik merupakan hal yang siginifikan dalam kajian filsafat.  Ini tentu sejajar dengan siqnifikansinya yang menyebut bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu.

Dengan membincangkan metafisika memberi pemahaman bahwa filsafat mencakup “segalanya”. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut “sebelum” karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut “sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya. Maka metafisika memiliki ruang lingkup Pokok Bahasan yang mencakup, pertama tentang kajian  Inkuiri ke apa yang ada (exist), atau apa yang betul-betul ada. Kedua tentang, Ilmu pengetahuan tentang realitas, sebagai lawan dari tampak (appearance)  Ketiga, Studi tentang dunia secara menyeluruh dengan segala Teori tentang asas pertama (first principle); prima causa  yang wujud di alam (kosmos).

Bagian  metafisika yang membincang tentang hakikat  realitas disebut Ontologi. Sedangkan   Kosmologi adalah bagian metafisika tentang proses realitas sehingga menghasilkan obyek dalam kajian metafisika yang disebut dengan obyek partikular (materi)  dan obyek universal (ide)C.    Aliran-Aliran dalam Metafisika

Cabang metafisika menimbulkan aliran-aliran filsafat sebagai berikut:

1. Segi Kwantitas

Dipandang dari kwantitas yaitu seberapa banyak susunan kenyataan yang sedalam-dalamnya tersebut, maka timbulah aliran-aliran filsafat antara lain: ada yang bersifat saling berhubungan, ada yang berdiri sendiri-sendiri, dan ada yang merupakan gabungan.

a)      Monoisme

Monoisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan yang terdalam (yang fundamental). Kanyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi,Tuhan atau substansi lainnya yang tidak dapat diketahui.

b)      Dualisme

Dualism atau (serba dua) yaitu aliran yang menyarakan ada dua substansi pokok yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Salah satu tokohnya yaitu Plato yang membedakan dua dunia yaitu dunia indra dan intelek.

c)      Pluralisme

Pluralism atau serba ganda yaitu aliran filsafat yang tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi, melainkan mengakui adanya banyak substansi. Empedoles salah satu tokoh pluralism mengatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri atas empat unsure, yaitu: udara, api, air, dan tanah.

2. Segi Kwalitas

Dipandang dari segi kwalitas, yaitu dipandang dari segi sifatnya maka terdapat beberapa aliran filsafat sebagai berikut:

a)      Spiritualisme

Spiritualisme adalah aliran yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam alam semesta adalah roh. Plato menyatakan bahwa idea tau cita adalah gambaran asli segala benda. Semua yang berada dalam dunia hanyalah merupakan penjelmaan atau bayangan saja. Ide atau cita tersebut tidak dapat ditangkap dengan indera tetapi dapat dipikirkan.

b)      Materialisme

Materialism adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa tidak ada hal yang nyata kecuali materi. Pikiran dan kesadaran adalah hanya penjelmaan dari materi dan dapat dikembalikan kedalam unsure-unsur fisis. Yang dimaksud dengan materi adalah sesuatu hal yang kelihatan, dapat diraba, berbentuk, menempati ruang. Hal-hal yang bersifat rokhaniah seperti pikiran, jiwa,keyakinan, rasa sedih dan senang tidak lain adalah ungkapan proses kebendaan.

3. Segi Proses

Dipandang dari segi prosesnya, kejadian maupun perubahannya, maka terdapat aliran-aliran filsafat sebagai berikut:

a)      Mekanisme

Mekanisme berasal dari bahasa Yunani mechane (mesin). Menurut aliran ini, semua gejala atau peristiwa seluruhnya dapat diterangkan berdasarkan pada asas-asas mekanis (mesin). Semua peristiwa adalah hasil dari materi yang bergerak dan dapat diterangkan dengan hokum-hukumnya. Alam dianggap seperti mesin yang fungsi keseluruhannya adalah ditentukan oleh bagiannya secara otomatis.

b)      Telelogis

Telelogis atau serba tujuan, aliran ini tidak mengingkari hokum sebab akibat, tetapi berpendirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah hokum sebab akibat tetapi awal mulanya memang ada suatu kemauan, atau kekuatan yang mengarah pada satu tujuan.

c)      Vitalisme

Vitalisme menyatakan bahwa hidup tidak dapat dijelaskan secara fisik-kimiawi, karena berbeda dengan segala sesuatu yang tidak hidup. Hans Adolf Eduard Driesch menyatakan bahwa setiap organism memiliki entechy, yaitu dalam hidup bekerja suatu asas khusus tersendiri yang disebut asas hidup, yang menurut Driesch adalah entelechy dan menurut Bergson disebut elan vital.

D.    Manfaat Filsafat Metafisika

Manfaat metafisika bagi pengembangan ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan saintifik pada  umumnya maupun ilmu-ilmu pengetahuan berbasis keagamaan. Manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah, ketika  kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka ia harus dipasok dari luar, antara lain: metafisika, sains yang lain, kejadian personal dan histories.
  2. Metafisika mengajarkan cara berpikir yang serius, terutama dalam menjawab problem yang bersifat enigmatik (teka-teki), sehingga melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yang mendalam.
  3. Metafisika mengajarkan sikap open-ended, sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka untuk temuan dan kreativitas baru.
  4. Perdebatan dalam metafisika melahirkan berbagai aliran, mainstream, seperti: monisme, dualisme, pluralisme, sehingga  memicu proses ramifikasi, berupa lahirnya percabangan ilmu.
  5. Metafisika menuntut orisinalitas berpikir, karena setiap metafisikus menyodorkan cara  berpikir yang cenderung subjektif dan menciptakan terminologi filsafat yang khas. Situasi semacam ini diperlukan untuk pengembangan ilmu dalam rangka menerapkan heuristika.
  6. Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama (First principle) sebagai kebenaran yang paling akhir. Kepastian ilmiah dalam metode skeptis.
  7. Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir Pengada,artinya manusia memiliki kebebasan untuk merealisasikan dirinya sekaligus bertanggung jawab bagi diri, sesama, dan dunia. Penghayatan atas kebebasan di satu pihak dan tanggung jawab di pihak lain merupakan sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yang sarat dengan nilai (not value-free)
  8. Metafisika mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan pengada yang lain. Aplikasi dlm ilmu berupa komunikasi antar ilmuwan mutlak dibutuhkan, tidak hanya antar ilmuwan sejenis, tetapi juga antar disiplin ilmu, sehingga memperkaya pemahaman atas realitas keilmuwan  .

Daftar Pustaka

Kaelan. 2002. Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Pradigma

Download dari:

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=metafisika%20dalam%20filsafat&source=web&cd=2&ved=0CDAQFjAB&url=http%3A%2F%2Fmuhlis.files.wordpress.com%2F2011%2F01%2Fsej-pemikiran-islamfilsafat-metafisika1.doc&ei=a4WBT8LfF8bRrQfUzKHzBQ&usg=AFQjCNGGFAsARpBqsxDKg_XxFdm8pZ_70g&cad=rja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s