Penjabaran pengakuan dan perlindungan HAM dalam bidang poleksosbudhuk di konstitusi yang berlaku sekarang dalam UUD 1945

  • Politik

Pasal 28D

(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.

Pasal 28G

(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.

  • Ekonomi

Pasal 28D

(2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.

Pasal 28C

(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

  • Sosial

Pasal 28A

Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Read the rest of this entry »

Perbedaan Persekutuan Perdata Firma CV
Pengertian Perjanjian antara dua orang atau lebih yang saling mengikatkan dirinya untuk memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan dengan maksud untuk membagi keuntungan (manfaat) yang terjadi karenanya (pasal 1618 KUHPerdata). Sebuah bentuk persekutuan untuk menjalankan usaha antara dua orang atau lebih dengan memakai nama bersama. Pemiliki firma terdiri dari beberapa orang yang bersekutu dan masing-masing anggota persekutuan menyerahkan kekayaan pribadi sesuai yang tercantum dalam akta pendirian perusahaan. Suatu persekutuan yang didirikan oleh seorang atau beberapa orang yang mempercayakan uang atau barang kepada seorang atau beberapa orang yang menjalankan perusahaan dan bertindak sebagai pemimpin
Cara mendirikan  Konsensual (pasal 1624 KUHPerdata)Akte Notaris: dimaksudkan untuk menghindari dari persengketaan atau perselisihan di kemudian hari mengenai tanggung jawab, pembagian hal dan kewajiban masing-masing pihak Dengan akta otentik, apabila tidak memakai akta otentik maka firma tersebut tidak mengkhususkan lapangan usahanya, jadi bergerak disemua bidang. Selain itu jangka waktunya tidak terbatas dan tidak ada sekutu yang dikecualikan (pasal 22 KUHD) 1. Konsensual2. Akta otentik
Pengurusan  1.Pengangkatan: disebutkan dalam anggaran dasar sehingga mempunyai kewenangan yang mutlak dalam pengurusan persekutuan. Pengecualian bagi sekutu mandater yang diangkat dengan surat kuasa, dimana telah terdapat akta dahulu baru pengangkatan sekutu mandater.2.Tidak melalui pengangkatan: semua sekutu. Ada yang ditunjuk dalam Anggaran Dasar dan ada yang tidak didasarkan pada pengangkatan.  Sekutu bertanggung jawab atas semua kerugian yang didasarkan atas inbreng. Read the rest of this entry »

Kaidah Fiqih

Posted: May 28, 2012 in Agama, Hukum, Makalah

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Apabila kita memperhatikan sejarah Islam serta menyelidiki perjalanan dan perjuangan Rasulullah SAW yang membawa syariat Islam untuk dikembangkan di tengah-tengah masyarakat dunia, guna menyusun dan mengatur amal usaha, ibadah dan muamalah, Beliau mensyariatkan aneka rupa hukum yang dibahas oleh ilmu fikih, yaitu: “ ilmu yang sangat besar manfaatnya, untuk menjadi pedoman bagi kita dalam segala langkah kita, baik menyangkut politik ekonomi dan social”.

Ilmu fikih merupakan sutu kumplan ilmu yang sangat luas pembahasanya, yang mengumpulkan berbagai macam jenis Hukum Islam dan bermacam aturan-aturan hidup untuk keperluan seseorang, golongan dan masyarakat. Ilmu fikih adalah ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat panjang sejak awal Islam hingga sekarang dengan perkembangan yang sudah sangat jauh sekali. Perkembangan-perkembangan ilmu fikih tersebut mengalami berbagai masa hingga terjadi perbedaan-perbedaan antara suatu takrif satu dengan takrif lain.

Usaha Nabi SAW itu diteruskan dengan amat sempurna oleh para sahabat besar dan kecil kemudian ulama sahabat yang meneruskan usaha Nabi SAW dalam tugas mengembangkan ilmu pengetahuan agama (Teungku, 1997 :1).

Melihat betapa pentingnya hal-hal yang kita ketahui diatas, kita tidak dapat menyangkal bahwa salah satu dari aspek ilmu-ilmu keislaman yang wajib ditegakan dengan sempurna, wajib disebarkan keseluruh lapisan masyarakat, wajib diketahui dan kita amalakan, adalah ilmu fikih Islam. Tersebarnya hukum fikih Islam diseluruh lapisan masyarakat, berlakunya segala hukum-hukumnya dalam pergaulan hidup, itulah salah satu dari syarat tegak dan berdirinya Masyarakat Islam (Teungku,1997:3). Dengan melihat hal-hal tersebut maka kita perlu membahas tentang kaidah-kaidah fikih islam.

II. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah pengertian kaidah fikih?
  2. Apa saja macam-macam kaidah fikih?

III. Tujuan

  1. Mengetahui pengertian kaidah fikih
  2. Mengetahui macam-macam kaidah fikih

BAB II

PEMBAHASAN

 

1.      Pengertian Kaidah Fikih

Kata “kaidah” diambil dari bahasa Arab qa’idah, yang bentuk jamaknya adalah qawa’id. Kaidah berarti asas atau fondasi, baik yang bersifat kongkret, seperti kalimat qawa’id al-bait (fondasi-fondasi rumah) atau abstrak, seperti kalimat qawa’id ad-din (fondasi-fondasi agama).

Adapun kata “fikih” (fiqh), secara bahasa, berarti pemahaman, sedangkan menurut istilah diartikan sebagai sebuah pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat praktis (‘amaliyah) yang diperoleh melalui proses ijtihad. Dengan demikian, kaidah fikih dapat diartikan sebagai dasar-dasar hukum mengenai perbuatan manusia yang diperoleh melalui proses ijtihad (Moh. Kurdi Fadal, 2008: 1-2).

Dr. Musthafa Ahmad bin Zarqa mengartikan kaidah fikih sebagai dasar-dasar yang bertalian dengan hukum syara’ yang bersifat mencakup (sebagian besar bagian-bagiannya) dalam bentuk teks prundang-undangan yang ringkas (singkat dan padat) yang mengandung penetapan hukum-hukum yang umum pada peristiwa yang dapat dimasukkan dalam permasalahannya.

Menurut Prof. Hasbi Ash Shiddiqi, kaidah fikih adalah kaidah-kaidah yang bersifat kully yang diambil dari dalil-dalil kully dan dari maksud-maksud syara’ menetapkan hukum (maqashidusy syar’iy) pada mukalaf serta dari memahami rahasia tasyri’ dan hikmah-hikmahnya.

Kedua pengertian diatas saling melengkapi karena pengertian pertama melihat bentuk dan isi, sedangkan pengertian kedua melihat isi dan sumber pengambilan serta perumusannya (Kamal Muchtar, 1995: 187).

2.      Kegunaan Kaidah Fikih

Berbagai ungkapan para ulama tentang kepentingan dan manfaat dari kaidah-kaidah fikih ini antara lain: “dengan kaidah-kaidah fikih kita tahu hakikat dari fikih, objek bahasan fikih, cara pengambilan fikih dan rahasia-rahasia fikih, menjadi terampil di dalam memahami fikih dan menghadirkan fikih”. “sesungguhnya kaidah-kaidah fikih itu menggambarkan nilai-nilai fikih, kabaikan dan keutamaan serta intinya. Dari bentuk dan uraian kaidah fikih nampaknya pola piker fikih Islam yang sangat luas dan mendalam dan tampak pula kekuatan filosofinya yang rasional serta kemampuannya di dalam mengumpulkan fikih dan mengembalikannya kepada akarnya”.

Hasbi al-Shiddieqy menyatakan bahwa nilai seorang fakih (ahli hokum Islam) diukur dengan dalam dan dangkalnya dalam kaidah fikih ini, karena di dalam kaidah fikih terkandung rahasia dan hikmah-hikmah fikih.

Dari uraian diatas, bisa disimpulkan kegunaan kaidah-kaidah fikih, antara lain:

  1. Dengan mengetahui kaidah-kaidah fikih kita akan mengetahui asas-asas umum fikih. Sebab, kaidah-kaidah fikih itu berkaitan dengan materi fikih yang banyak sekali jumlahnya. Dengan kaidah-kaidah fikih, kita mengetahui benang merah yang mewarnai fikih dan menjadi titik temu dari masalah-masalah fikih.
  2. Dengan memperhatikan kaidah-kaidah fikih akan lebih mudah menetapkan hokum bagi masalah-masalah yang dihadapi, yaitu dengan memasukkan masalah tadi atau menggolongkannya kepada salah satu kaidah fikih yang ada.
  3. Dengan kaidah fikih akan lebih arif di dalam menerapkan fikih dalam waktu dan tempat yang berbeda untuk keadaan dan adat yang berlainan.
  4. Dengan menguasai kaidah-kaidah fikih, bisa memberikan jalan keluar dari berbagai perbedaan pendapat dikalangan ulama, atau setidaknya menguatkan pendapat yang lebih mendekati kepada kaidah-kaidah fikih.
  5. Orang yang mengetahui kaidah-kaidah fikih akan mengetahui rahasia-rahasia dan semangat hokum Islam (ruh al-hukm) yang tersimpul di dalam kaidah-kaidah fikih.
  6. Orang yang menguasai kaidah-kaidah fikih disamping kaidah-kaidah ushul, akan memiliki keluasan ilmu, dan hasil ijtihadnya akan lebih mendekati kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Adapun manfaat kaidah fikih adalah member kemudahan di dalam menemukan hokum –hukum untuk kasus-kasus hokum yang baru dan tidak jelas nashnya dan memungkinkan menghubungkannya dengan materi-materi fikih yang lain yang tersebar di berbagai kitab fikih serta memudahkan di dalam member kepastian hokum.

(A.  Djazuli, 2006: 25-26) Read the rest of this entry »

Berpikir Perubahan

Posted: May 28, 2012 in Budaya, Sosial

1. Definisi Pola Pikir

Pola pikir adalah menjalankan prinsip-prinsip dalam mengorganisir daya kekuatan pikiran kedalam konsepsi kekuatan latihan dalam aktualisasi dengan memanfaatkan intelegensi sebagai suatu kekuatan yang di integrasiksn secara rasional.

2. Pola pikir dapat diubah

Contohnya: Pola pikir kita bahwa sampah itu merugikan dan dapat mendatangkan banyak bencana. Tapi saat kita mengubah pola pikir, kita memandang bahwa sampah dapat menguntungkan. Dengan memanfaatkan sampah plastic menjadi kerajinan dan sampah organik menjadi pupuk, berarti telah merubah pola pikit kita tentang sampah. Bahkan, sampah yang diolah tersebut dapat menguntungkan.

3. Cara mengubah pola pikir

  • Mengatur Pikiran untuk Mengubah Diri

Anda tahu bahwa ada kebutuhan perubahan di dalam diri setiap orang dari negatif ke positif. Hal ini dapat dimulai dengan mengingat apa saja kesalahan-kesalahan yang pernah anda lakukan dimasa lalu dan cobalah untuk untuk memperbaikinya dengan niat dan tekad “saya pasti bisa menjadi orang yang lebih baik”

  • Hindari berpikir dengan emosi

Memang hidup penuh dengan cobaan dan tantangan yang kadang membuat kita emosi, dan untuk mengatasinya dibutuhkan solusi cepat dan tepat. Tapi anda harus ingat bahwa berpikr dalam menentukan suatu tindakan harus tenang dan benar-benar tepat untuk mengatasi semua permasalahan yang anda alami.

  • Selalu Bersyukur

Dengan bersyukur maka anda akan terhindar dari hawa nafsu dan emosi yang akan mengganggu konsentrasi anda dalam berfikir sesuatu yang positif.

  • Istirahat cukup dan teratur

Dengan istirahat cukup dan teratur maka kinerja otak akan menjadi segar kembali

  • Tingkatkan Iman dan Perbanyak amal Ibadah

Cara ini adalah cara yang paling penting dan efektif untuk mengubah cara berpikir dari negatif ke positif.

Untuk mengubah cara berfikir memang tidak mudah, semua itu membutuhkan proses dan tahapan-tahapan yang harus dijalankan dengan niat dan keyakinan. Read the rest of this entry »

Metafisika

Posted: May 28, 2012 in Filsafat


A.    Pengertian

Metafisika semula digunakan untuk menunjukkan karya-karya tertentu Aristoteles. Istilah ‘metafisika’ berasal dari bahasa Yunani meta ta physika, yang berarti hal-hal yang berada sesudah (dibalik) fisika. Istilah tersebut dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang telaah tentang segala sesuatu secara mendalam atau sifat yang terdalam dari kenyataan (ultimate nature). Bilamana dibandingkan dengan ilmu fisika yaitu yang mempelajari benda-benda fisik, ilmu biologi yang mempelajari gejala fisis dari makhluk hidup, maka metafisika mempelajari dan membahas tentang keberadaan segala sesuatu benda fisis dari segi hakikatnya yang terdalam.

B.     Lingkup Metafisika

Metafisika mengandung Klasifikasi  yang meliputi   Pertama,  Metaphysica Generalis (ontologi); ilmu tentang yg ada atau pengada.  Kedua, Metaphysica Specialis terdiri atas: 1). Antropologi; menelaah tentang hakikat manusia, terutama hubungan jiwa dan raga. 2) Kosmologi; menelaah tentang asal-usul dan hakikat alam semesta.  Dan  3). Theologi; Kajian tentang Tuhan secara rasional dengan segala abstraksi yang memungkinkan melekat pada-Nya.

Metafisika umum membahas mengenai yang ada sebagai yang ada, artinya prinsip-prinsip umum yang menata realitas. Sedangkan metafisika khusus membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam bidang-bidang khusus: teologi, kosmologi dan psikologi. Pemilahan tersebut didasarkan pada dapat tidaknya dicerap melalui perangkat inderawi suatu obyek filsafat pertama. Metafisika umum mengkaji realitas sejauh dapat diserap melalui indera sedang metafisika khusus  (metafisika) mengkaji realitas yang tidak dapat diserap indera, apakah itu realitas ketuhanan (teologi), semesta sebagai keseluruhan (kosmologi) maupun kejiwaan (psikologi).

Disiplin filsafat  pada dasarnya tidak sepenuhnya terpisah satu sama lain karena pembahasan metafisika tentang realitas supra inderawi, terkait dengan pembahasan ontologi tentang prinsip-prinsip umum yang menata realitas inderawi.   Istilah  metafisika dengan sifatnya yang supra inderawi inilah memunculkan keengganan orang terhadap konsep – konesp metafisika. Kedudukan metafisika dalam dunia filsafat sangat kuat. Pertama, metafisika sudah merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Kedua, telaah filosofis terdapat unsur metafisik merupakan hal yang siginifikan dalam kajian filsafat.  Ini tentu sejajar dengan siqnifikansinya yang menyebut bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu.

Dengan membincangkan metafisika memberi pemahaman bahwa filsafat mencakup “segalanya”. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut “sebelum” karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut “sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya. Maka metafisika memiliki ruang lingkup Pokok Bahasan yang mencakup, pertama tentang kajian  Inkuiri ke apa yang ada (exist), atau apa yang betul-betul ada. Kedua tentang, Ilmu pengetahuan tentang realitas, sebagai lawan dari tampak (appearance)  Ketiga, Studi tentang dunia secara menyeluruh dengan segala Teori tentang asas pertama (first principle); prima causa  yang wujud di alam (kosmos).

Bagian  metafisika yang membincang tentang hakikat  realitas disebut Ontologi. Sedangkan   Kosmologi adalah bagian metafisika tentang proses realitas sehingga menghasilkan obyek dalam kajian metafisika yang disebut dengan obyek partikular (materi)  dan obyek universal (ide) Read the rest of this entry »

Budaya Politik

Posted: May 28, 2012 in Makalah, Politik

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kehidupan manusia di dalam masyarakat, memiliki peranan penting dalam sistem politik suatu negara. Manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk sosial, senantiasa akan berinteraksi dengan manusia lain dalam upaya mewujudkan kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia tidak cukup yang bersifat dasar, seperti makan, minum, biologis, pakaian dan papan (rumah). Lebih dari itu, juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri dan penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian, pemberian upah kerja, status sebagai anggota masyarakat, anggota suatu partai politik tertentu dan sebagainya.

Setiap warga negara, dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik. Jika secara tidak langsung, hal ini sebatas mendengar informasi, atau berita-berita tentang peristiwa politik yang terjadi. Dan jika seraca langsung, berarti orang tersebut terlibat dalam peristiwa politik tertentu.

Kehidupan politik yang merupakan bagian dari keseharian dalam interaksi antar warga negara dengan pemerintah, dan institusi-institusi di luar pemerintah (non-formal), telah menghasilkan dan membentuk variasi pendapat, pandangan dan pengetahuan tentang praktik-praktik perilaku politik dalam semua sistem politik. Oleh karena itu, seringkali kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan-pengetahuan, perasaan dan sikap warga negara terhadap negaranya, pemerintahnya, pemimpim politik dan lain-lain.

Budaya politik, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang lebih khas. Istilah budaya politik meliputi masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan kebijakan pemerintah, kegiatan partai-partai politik, perilaku aparat negara, serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang me­merintah.

Kegiatan politik juga memasuki dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan sosial, kehidupan pribadi dan sosial secara luas. Dengan demikian, budaya politik langsung mempengaruhi kehidupan politik dan menentukan keputusan nasional yang menyangkut pola pengalokasian sumber-sumber masyarakat.

B.     Rumusan Masalah

  1. Apakah pengertian budaya politik itu?
  2. Apa sajakah tipe-tipe budaya politik?
  3. Bagaimanakah budaya politik di Indonesia?

C.    Tujuan

  1. Memahami arti budaya politik
  2. Mengetahui tipe-tipe budaya politik
  3. Memgetahui bagaimana budaya politik di Indonesia

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian

Almond dan Verba (1990) mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sikap orientasi yang khas dari warga Negara terhadap system politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga Negara di dalam system itu. Batasan ini memperlihatkan pada kita adanya unsure individu, yakni warga Negara dan system politik serta keterkaitannya. Dalam hal ini budaya politik terlihat dari bagaimana sikap individu terhadap system politik dan bagaimana pula sikapnya terhadap individu dalam system politik (Suharno, 2004: 90).

Sedangkan menurut Austin Ranney, budaya politik adalah seperangkat pandangan-pandangan tentang politik dan pemerintahan yang dipegang secara bersama-sama; sebuah pola orientasi-orientasi terhadap objek-objek politik.

Seperti dikatakan oleh Almond bahwa budaya politik merupakan dimensi psikologis dalam suatu sistem politik. Maksud dari pernyataan ini menurut Ranney, adalah karena budaya politik menjadi satu lingkungan psikologis, bagi terselenggaranya konflik-konflik politik (dinamika politik) dan terjadinya proses pembuatan kebijakan politik. Sebagai suatu lingkungan psikologis, maka komponen-komponen berisikan unsur-unsur psikis dalam diri masyarakat yang terkategori menjadi beberapa unsur.

Menurut Ranney, terdapat dua komponen utama dari budaya politik, yaitu orientasi kognitif (cognitive orientations) dan orientasi afektif (affective oreintatations). Sementara itu, Almond dan Verba dengan lebih komprehensif mengacu pada apa yang dirumuskan Parsons dan Shils tentang klasifikasi tipe-tipe orientasi, bahwa budaya politik mengandung tiga komponen obyek politik sebagai berikut:

  1. Orientasi kognitif  yaitu berupa pengetahuan tentang dan kepercayaan pada politik, peranan dan segala kewajibannya serta input dan outputnya.
  2. Orientasi afektif  yaitu perasaan terhadap sistem politik, peranannya, para aktor dan pe-nampilannya.
  3. Orientasi evaluative  yaitu keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek politik yang secara tipikal melibatkan standar nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan.

Di dalam realitas kehidupan ketiga komponen ini tidak terpisah-pisah secara tegas. Adanya perbedaan tingkat pemahaman tentang perkembangan masyarakay pada setiap individu menyebabkan ketiga komponen tersebut saling terkait atau sekurang-kurangnya saling terkait. Untuk dapat membentuk suatu penilaian terhadap seorang pemimpin, seorang warga Negara harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang si pemimpin. Dan pengetahuan itu sudah dipengaruhi oleh perasaannya sendiri. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan berpengaruh pada system politik secara keseluruhan (Suharno, 2004: 91).

Budaya politik suatu masyarakat berkembang dan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ada dalam masyarakat itu. Bahkan dapat dikatakan bahwa kehidupan bermasyarakat dipenuhi oleh interaksi antar orientasi dan antar nilai.interaksi yang demikian memungkinkan timbulnya kontak-kontak di antara budaya politik bangsa. Proses ini kita kenal dengan sosialisasi politik yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat mengalami, menyerap,dan menghayati nilai-nilai politik yang ada disekitarnya. Jadi antara budaya politik dan sosialisasi politik bersifat saling mempengaruhi. Pertumbuhan dan perkembangan politik merupakan output sosialisasi politik dan dapat pula berfungsi sebagai input proses sosialisasi politik (Suharno, 2004: 94).

Sosialisasi politik didefinisikan oleh Ramlan Surbakti (2007: 117) sebagai proses pembentukan sikap dan orientasi politik anggota masyarakat. Melalui sosialisasi politik inilah para nggota masyarakat memperoleh sikap dan orientasi kehidupan politik yang berlangsung dalam masyarakat.Nilai-nilai politik yang disosialisasikan adalah yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan metode penyampaiannyadapat dilakukan dengan pendidikan politik dan indoktrinasi politik (Cholisin dkk, 2007: 113).

Read the rest of this entry »


Membandingkan system pemerintahan presidensial dan parlementer, serta kekurangan dan kelebihan masing-masing

Perbandingan Sistem Pemerintahan Presidensil Sistem Pemerintahan Parlementer
Ciri-ciri Ikatan partai lebih longgar karena masing-masing pihak khususnya para anggota badan legislative sangat bergantung pada konstituennya. Dengan kata lain, dalam pemerintahan presidensial, ikatan dengan partai sama pentingnya dengan hubungan baik dengan para pemilihnya Parlemen merupakan satu-satunya badan yang anggotanya dipilih secara langsung oleh warga Negara yang berhak memilih melalui pemilihan umum
Kabinet (dewan menteri) dibentuk oleh presiden. Kabinet bertangungjawab kepada presiden dan tidak bertanggung jawab kepada parlemen atau legislatif Anggota dan pemimpin cabinet (perdana menteri) dipilih oleh parlemen untuk melaksanakan fungsi dan kewenangan eksekutif. Sebagian besar atau seluruh anggota cabinet biasanya juga menjadi anggota parlemen sehingga mereka memiliki fungsi ganda, yakni legislative dan eksekutif. Hal ini berarti yang memerintahadalah partai yang memenangkan pemilihan umum atau koalisi partai-partai manakala tidak ada satu partai yang mencapai suara mayoritas
Kebijakan yang bersifat komprehensif jarang dapat dibuat karena legislative dan eksekutif mempunyai kedudukan yang terpisah (seseorang tidak bisa mempunyai fungsi ganda), ikatan partai yang longgar, dan kemingkinan dua badan ini didominasikan oleh partai yang berbeda Cabinet dapat bertahan sepamjang mendapat dukungan mayoritas dari parlemen. Hal ini berarti parlemen dapat menjatuhkan cabinet manakala mayoritas parlemen memberikan mosi tidak percaya kepada cabinet
Jabatan kepala pemerintahan dan kepala Negara berada pada satu tangan Manakala kebijakannya tidak mendapat dukungan dari parlemen, perdana menteri dapat membubarkan parlemen, lalu dapat menetapkan waktu penyelenggaraan pemilihan umum untuk membentuk parlemen yang baru
Kabinet (dewan menteri) dibentuk oleh presiden. Kabinet bertangungjawab kepada presiden dan tidak bertanggung jawab kepada parlemen atau legislatif Anggota parlemen terdiri atas orang-orang dari partai politik yang memenangkan pemiihan umum. Partai politik yang menang dalam pemilihan umum memiliki peluang besar menjadi mayoritas dan memiliki kekuasaan besar di parlemen. Read the rest of this entry »